Blog

Tips Perawatan dan Pemeliharaan Komponen Alat Berat

Tujuan dari suatu perusahaan melakukan perawatan alat berat yaitu untuk menjaga kondisi dan kerja alat berat tersebut supaya prima sesuai dengan spesifikasi dan kegunaannya meliputi: Dengan demikian perawatan yang baik akan meningkatkan target produksi yang akan dicapai dan mendukung diperolehnya keuntungan dengan biaya rendah. Merawat dan Memelihara Alat Berat Bagi seorang mekanik alat berat pasti sudah paham mengenai perawatan dan pemeliharaan alat berat, dikarenakan sudah merupakan tugas dan tanggung jawab seorang mekanik alat berat. Berikut beberapa cara, langkah dan jenis perawatan dan pemeliharaan alat berat yang baik dan benar, yaitu: 1.      Melakukan pengecekan alat berat sebelum dan sesudah dipergunakan (Preventive Maintenance) Perawatan yang dilakukan dengan tujuan mencegah/memindahkan kemungkinan muncul gangguan/kerusakan pada mesin tanpa perlu menunggu adanya tanda-tanda kerusakan. Sebelum alat berat dipergunakan sebaiknya mencek alat berat terlebih dahulu seperti contoh bahan bakar secara rutin, sehingga tidak menutup kemungkinan kesiapan pada saat membutuhkan alat berat nantinya. 2.      Perawatan Berkala (Periodic Maintenance) Suatu usaha untuk mencegah timbulnya kerusakan yang dilakukan secara kontinyu dengan interval pelaksanaan yang telah ditentukan berdasarkan hour meter (HM). Perawatan yang dilakukan setiap kali perawatan digunakan dalam jumlah jam operasi tertentu, disesuaikan dengan jumlah waktu yang ditunjukkan alat yang mencatat jam operasi pada alat tersebut. Pemeriksaan bisa dilakukan setiap hari atau setiap minggu, berupa pemeriksaan kecukupan bahan bakar, air radiator, oli mesin sebelum dinyalakan, pemeriksaan fungsi hidrolik dan pemeriksaan baterai beserta kabelnya. Pelaksanaan bisa dilakukan sendiri atau pihak lain (vendor) dengan memeriksa kondisi unit, mengganti pelumas dan mengganti suku cadang alat berat, meliputi: a.      Inspeksi Berkala Pemeriksaan atau inspeksi harian sebelum unit dioperasikan dan pemeriksaan mingguan untuk mengetahui keamanan keadaan mesin. Waktu yang tepat memeriksa alat berat yaitu pagi hari sebelum mengoperasikan alat berat dan yang penting juga setelah selesai menggunakan alat berat harus dibersihkan. b.      Perawatan Berkala Perawatan mesin atau unit yang teratur demi menjamin pengoperasian yang bebas dari kerusakan dan memperpanjang umur unit serta berkurangnya ongkos operasi unit. Semua angka yang menunjukkan jumlah jam kerja terletak pada keterangan yang tertera pada check sheet didasarkan pada angka yang dilihat dalam service meter. Pada kondisi di lapangan saat beroperasi perlu mempersingkat jadwal waktu perawatan yang telah ditentukan. 3.      Overhaul Maintenance (Jadwal Overhaul) Perawatan yang dilakukan dengan interval tertentu sesuai dengan standar overhaul terhadap masing-masing komponen, merekondisi mesing atau komponen agar kembali ke kondisi sesuai standar pabrik. Dimana perawatan yang dilakukan untuk mengembalikan performa mesin kembali ke kondisi standar pabrik, juga memberikan usia kedua pada mesin dengan melakukan penggantian atau pemakaian ulang komponen sesuai petunjuk pemakaian menurut standar pabrik, hal ini mencegah terjadinya kerusakan harus dilakukan secara rutin. Macam-macam overhaul, yaitu: 4.      Condition Bade Maintenance Perawatan alat berat yang bertujuan mengembalikan kondisi unit seperti semula (standar) dengan cara service seperti PPM, PPU yang hasil pengukuran disesuaikan dengan standar terbaru (service news dan modification progam). Jenis perawatan yang dilakukan sesuai dengan kondisi mesin, hanya ketika ada indikator kerusakan pada mesin, baik kerusakan berat maupun ringan, perawatan dilakukan pada saat telah ditemukannya kerusakan yang terjadi, bukan sebelumnya. Pelaksanaan Pekerjaan Perawatan Pada saat melaksanakan pekerjaan perawatan alat berat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: Keselamatan Pelaksanaan Perawatan Secara umum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam keselamatan pelaksanaan perawatan alat berat, meliputi antara lain: Proses Maintenance Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sebelum melakukan maintenance (pekerjaan perawatan) antara lain:

Tips Perawatan dan Pemeliharaan Komponen Alat Berat Read More »

Well Testing: Pengertian, Tujuan, Dan Jenis-Jenisnya

Dalam dunia perminyakan dan gas, banyak istilah-istilah yang belum diketahui oleh masyarakat awam. Salah satunya istilah Well Testing. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai istilah ini. Apa Itu Well Testing? Well Testing atau uji sumur merupakan pelaksanaan serangkaian kegiatan akuisisi data yang direncanakan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menambah pemahaman tentang sifat-sifat hidrokarbon di dalamnya serta memahami karakteristik reservoir bawah tanah dimana hidrokarbon terperangkap. Tes ini juga akan memberikan informasi tertentu tentang keadaan sumur yang digunakan untuk mengumpulkan data yang meliputi laju aliran volumetrik dan tekanan yang diamati di sumur terpilih. Hasil pengujian sumur seperti data laju aliran dan rasio migas, dapat mendukung alokasi sumur untuk fase produksi yang sedang berjalan. Sementara data lain seperti kemampuan reservoir akan mendukung pengelolaan reservoir. Tujuan Well Testing Tujuan utama dari well testing adalah untuk menentukan kemampuan suatu formasi untuk melakukan produksi. Apabila proses pengujian dilakukan dengan baik dan hasilnya dianalisa dengan baik, maka akan banyak informasi yang diperoleh. Di antara informasiinformasi tersebut yaitu permeabilitas formasi, kerusakan formasi di sekitar lubang sumur akibat bor atau pada saat melakukan produksi, serta informasi mengenai tekanan reservoir dan batas-batas reservoir. Pada dasarnya pengujian ini cukup sederhana, yaitu dengan memberikan gangguan kesetimbangan tekanan terhadap sumur yang akan dites. Jenis-jenis Well Testing Ada 3 jenis uji sumur (Well Test) yang biasa dilakukan di lapangan, yaitu Deliverability Testing (Uji Potensi), Drill Stem Test/DST (Uji Kandungan Lapisan), dan Pressure Transient Testing (Uji Transien). Uji Potensi ini digunakan untuk mengetahui potensi maksimal dari suatu sumur serta bagaimana kinerja aliran di reservoirnya pada kondisi yang lebih umum terjadi saat memproduksi reservoir (steady state). Oleh karena itu, diperlukan waktu yang cukup lama. Uji Kandungan Lapisan merupakan sebuah pengujian produktivitas formasi saat proses pemboran masih berlangsung. Uji sumur ini dilakukan dengan cara pemboran dihentikan dan fluida formasi diproduksi melalui pipa bor. Tujuan dari DST ini adalah untuk mengetahui kandungan hidrokarbon dari suatu lapisan dan mengetahui karakteristik reservoir seperti permeabilitas, faktor skin, juga damage ratio. Drill Stem Test ini biasanya dilakukan dalam dua periode pengaliran, yaitu uji alir pertama dan kedua serta dua kali penutupan tutup pertama dan kedua. Uji Transien dilakukan setelah sumur diproduksi selama beberapa waktu dengan harapan sumur sudah memiliki laju yang stabil dalam memperkirakan karakteristik dan model reservoir. Oleh sebab itu, diperlukan waktu yang relatif lebih lama daripada DST. Namun, tidak terlalau lama seperti Deliverability Testing.

Well Testing: Pengertian, Tujuan, Dan Jenis-Jenisnya Read More »